Perubahan

Satu hal yang tak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri

Satu hal yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri

-anonim-

Entah darimana sebenarnya saya pernah mendengar kalimat tersebut. Saya hanya ingat kata-kata ini pertama kali saya dengar saat galau skripsi masa kuliah. Saat dimana rasanya cobaan terberat adalah diperintah dosen pemilik proyek untuk mengulang semua praktikum penelitian yang telah saya lakukan SEPARUH perjalanan (padahal dosen pembimbing bilang itu sudah tak masalah). Rasanya seakan disambar petir, “aduh bisa ontime nggak ya lulusnya??”. Eh kok malah curhat masa lalu.

Perubahan pasti akan terjadi, dan mau tak mau kita harus bisa menyesuaikan diri. Seperti teori evolusi, dimana siapa yang tidak dapat menyesuaikan diri akan punah. Teringat sesi brainstorming kantor beberapa waktu lalu oleh seorang psikolog. Jika diumpamakan tujuan atau visi kita adalah keju, maka ketika keju kita habis kita harus bisa mencari tempat keju yang barum. Ketika tujuan tercapai, kita harus tetap memiliki tujuan lain untuk bisa terus maju dan bergerak.

Karena perubahan itu pasti. Tempat baru, orang baru, sistem baru, atau mungkin masalah baru. Maka buatlah diri kita bisa terbuka dan fleksibel dengan tetap dapat mengendalikan keadaan. Suatu hal baru pastinya terjadi untuk membuat kita lebih baik dan terus berkembang.

Pun perihal parenting, karena anak kita hidup di jaman now yang serba canggih, jauh berbeda dengan ketika kita kecil dulu. Seringkali saya dapat teguran karena pola asuh yang beda dari jaman dulu. Sering saya dibilang “biyen awakmu yo ngono gak opo2” (dulu kamu begitu tak apa). Macam pemberian ASIX, MPASI, susu formula, gadget.

Saya mengaku salah, membiarkan Una mengenal gadget (baik tv maupun channel youtube) di usianya yang terlalu belia (saat itu belum dua tahun). Jaman kita kecil mungkin hanya ada tv dengan film anak yang terbatas macam Doraemon (yang sampai sekarang masih ada, dan Nobita masih terus kelas V SD). Saya tidak mungkin langsung merampas ketika ada orang lain yang justru “mengiming-imingi” Una dengan gadget untuk menarik perhatiannya dan kemudian mau diajak atau dipangku. Maka saya mau tak mau harus ikut terjun, nyemplung, mendampingi dan ikut juga belajar apa yang dia tonton sambil terus berkomunikasi. Dengan begitu, saya bisa ikut bernyanyi dan bermain macam di chanel youtube yang Una tonton. Pada akhirnya kami menyanyi bersama tanpa buka youtube. Setidaknya dia bisa ganti menonton saya yang menyanyi dan bergaya macam di youtube tanpa harus membuka gadget. Akan lebih seru jika kami bisa menyanyi dan menari bersama.

Waktu memang tidak pernah berjalan mundur, dan jaman terus berubah. Kita pun harus terus mengikuti perubahan untuk dapat tetap bertahan melalui seleksi alam dan menguasai keadaan.

Iklan

Trip to Semarang (2)

Weekend lalu adalah long weekend bagi saya dan mas swami, karena libur tanggal merah dobel di sabtu minggu. Beberapa waktu sebelumnya sebenarnya kami sama sekali tidak menyadari. Tapi begitu sadar, akhirnya mulailah berfikir “kemana kita..?”.

Setelah menimbang, memperhatikan, dan meneliti lebih lanjut (halaaaah) maka diputuskan kami akan mengajak Una naik kereta api. Alasan untuk naik kereta api sebenarnya karena Una belum pernah naik kereta api. Kemudian memilih kota. Awalnya kami ingin “mantai”, mungkin Banyuwangi, tapi apadaya tiket habis karena kami tidak jauh hari merencanakan dan membeli tiket. Pada akhirnya pilihan jatuh pada Semarang, dengan pertimbangan waktu yang tidak terlalu lama dan yang tidak kalah penting kami pilih jam keberangkatan kereta malam agar saat di kereta harapannya Una sudah mulai mengantuk dan akan tidur.

Baca edisi pertamanya disini : Trip to Semarang

Hasilnya… jeng..jeng..jeng…

Kami berangkat pada Jum’at 16 Maret 2018 dari Stasiun Pasar Turi dengan kereta ArgoBromoAnggrek pukul 20.00, perkiraan tiba di Stasiun Tawang Semarang 23.20. Selama perjalanan, Una sama sekali tidak tidur. Padahal di mobil dari rumah menuju stasiun sudah mulai merem. Mungkin Una terlalu exited dengan pengalaman pertamanya naik kereta. Yasudahlah pada akhirnya Una menyanyi, makan, nyemil di dalam kereta. Sementara mata kami yang dewasa sudah mulai ingin terkatup.

Una pose di stasiun

Sampailah kami di stasiun Semarang Tawang, dan karena lapar maka kami mencari sesuap nasi dulu. Akhirnya daripada jauh ya sudahlah ke gerai C*C yang ada di stasiun. Kami dijemput oleh kenalan Mas Swami yang ad di Semarang. Alhamdulillah Una baru masuk mobil sudah amblas. Mungkin dia memang dari awal antara menahan kantuk tapi excited naik kereta. Jadinya melek terus sepanjang perjalanan.

Vuew pagi yang cerah, dan Una pun cerah ceria

Kami sengaja bangun pagi untuk sarapan lebih awal kemudian tujuan utamanya adalah…. Berenang… karena Una paling tidak tahan melihat genangan air. Pastilah langsung cebuur…

Setelah sarapan, kami sempat beefoto sebelum berenang. Satu hal yang baru saya sadari adlah kenyataan bahwa Una sudah sangat mahir bergaya. Mungkin genetis.

Kami menginap di Balemong Resort. Awalnya tempat ini hanyalah sebuah restoran dengan live music di penghujung minggu. Namun pada akhirnya berkembang menjadi penginapan yang sangat nyaman dengan beberapa tipe. Tempat yang luas totalnya mencapai 5ha ini terdapat banyak fasilitas seperti kolam renang, playground, jogging track, persewaan sepeda, dan yang seru kami dari lobby menuju kamar diantar oleh mobil golf karena jarak yang memang cukup jauh. Ketika akan ke lobby, kami bisa telepon receptionist untuk minta dijemput juga. Suasana tenang untuk liburan keluarga.

Siang hari kami pergi ke Cimory on the Valley. Kami silaturrahim dengan salah seorang teman Mas Swami (banyak banget temennya). Tempat makan sekaligus outlet produk Cimory. Kami tidak hanya makan, tapi dapat juga menikmati jalan-jalan ke lembah dengan banyak spot foto serta… hewan ternak… iya, sapi, kelinci, ayam, kambing, bisa kita lihat disana. Sesuai untuk pengunjung dengan anak kecil, sekaligus media pembelajaran. Terlebih lagi tiket masuknya dapat ditukar produk yoghurt Cimory. Sayangnya saat kami disana gerimis mengguyus, sehingga kurang maksimal berswafoto.

Silaturrahim edisi 2 berlanjut di sore hari, lebih tepatnya mungkin malam. Kami bertandang ke rumah salah seorang kakak sepupu yang juga berada di Semarang. Tifak terlalu lama kami disana, karena memang suasana sudah hampir larut dan Una mengantuk.

Daan… kami salah… ketika kami sampai di hotel, Una kembali bangkit. Maalah masih makan mie juga.

Hari ke tiga yaitu Minggu, agenda kami memang hanyak akan beristirahat. Tidak pergi jauh, hanya mungkin akan mampir di beberapa tempat yang searah dengan jalan menuju stasiun.

Kami kembali naik kereta di stasiun Semarang Tawang dengan menaiki kereta ArgoBromo Anggrek. Dan pad akhirnya berakhirlah perjalanan kami di Semarang (untuk edisi kali ini).

Sampai jumpaa di lain kesempatan..

Karena esensi sebuah perjalanan adalah silaturrahim

WWL : 2 Years Journey

Setiap anak yang lahir ke dunia, memiliki hak akan ASI. Maka kewajiban seorang ibu adalah memenuhi hak anak akan ASI semaksimal mungkin, kecuali ada indikasi medis tertentu. Pun seorang bayi, adalah manusia seutuhnya yang memiliki hak untuk mengambil keputusan. Keputusan terbesar pertama seorang bayi adalah ketika dia menentukan kapan saatnya berhenti menyusu. Tugas orang tua adalah membimbing serta mendampingi anak agar dapat dengan sama-sama ikhlas menyudahi proses mengASIhi.

Flashback di masa awal menyusui Una, saya sangat ingat bagaimana rasanya puting lecet berdarah sampai saat dipompa ASI jadi sperti susu stroberi. Uuhh… Rasa perihnya seakan luka yang ditaburi garam.

Baca : MengASIhi Una

Ditambah lagi dengan perasaan babyblues yang melanda. Karena di saat yang sama saya ingin berduaan dengan Una, tamu tak henti berdatangan, inginmemeluk dan cium Una. Sementara gerak saya masih terbatas dan dengan banyak sekali aturan sebagai orang jawa.

Baca : My Babyblues Syndrome

Banyak pengalaman menarik antara saya dan Una. Seperti ketika saya mendapatkan tawaran kantor untuk sebuah perjalanan wisata ke Thailand. Awalnya saya ragu untuk berangkat, namun saya merasa seorang ibu baru seperti saya butuh juga me time sekedar untuk menjaga kewarasan. Dengan segala pertimbangan dan tentunya hak Una akan ASI harus tetap terpenuhi, saya pun berangkat.

Baca : ASIP Itu Pun Turut Mengudara

Cerita WWL Una dimulai di usia Una 18 bulan. Saat itu saya memang telah mencoba membiasakan Una ketika terbangun tengah malam untuk duduk kemudian belajar minum air dari botol minum (bukan dot) semacam tup***ware. Tapi saat itu memang tanpa adanya sounding untuk WWL.

Una di usia 20 bulan sudah bisa dan terbiasa ketika terbangun malam duduk dan minum air kemudian kembali tidur lagi. Saya pun mencoba mulai sounding, “Una nanti setelah ulang tahun ke 2 sudah ndak mik mama ya, udah ndak mik gentong.. Mik air dari gelas atau botol, mik jus pake sedotan..”. Kurang lebih begitulah souding yang saya berikan.

Orang-orang di sekitar seketika ikut juga “bermaksud sounding”, cuma sepertinya malah Una merasa semacam digojloki (hmm.. Bahasa Indonesianya apa ya… Diejek atau diledekin mungkin). “Ayo.. Mik nya sudah…”, “ayo wes gek ndang dipedhot ae (ayo segera diakhiri saja)”, “olesi kunir ae ben gak arep (olesi kunir saja biar tidak mau)”. Entah kenapa memasuki usia 22bulan malah semakin posesif, semakin lengket dan tidak mau lepas. Hoho… Saat itu keadaan hampir sukses membuat saya berfikir mungkin memang belum saatnya. Tapi di sisi lain tidak dipungkiri lingkungan pada dasarnya masih menganut model penyapihan paksa seperti era saya bayi dulu. Saya sedikit banyak terbawa mood Una juga. Sempat sedikit ada gesekan dengan mbah nya Una tentang penyapihan. Setelah pembahasan maka sepakat bahwa saya bisa WWL dengan dimulai dari saat itu agar nanti tidak jauh terlewat dari ulang tahun ke 2 nya Una sudah lepas ASI.

Frekuensi menyusu pun saya kurangi bertahap yang awalnya minimal menyusu langsung 3x menjadi hanya 2x yaitu pagi bangun tidur dan saat sebelum tidur malam. Hingga di usia nya tepat 2 tahun, Una mulai belajar hanya menyusu saat malam sebelum tidur. Pagi hari ketika bangun saya langsung tawarkan minum air, cemilan, dan mainan. Tujuannya agar sesi menyusu di pagi hari terlewat.

Sangat sulit membuat Una lupa dan teralihkan dari menyusu di malam sebelum tidur. Bisa jadi malam ini bisa kardna sudah ngantuk berat dan lelah bermain, tapi malam keesokan harinya kembali teringat. Pada akhirnya saya harus membawa semua mainan kesukaan Una ke kamar agar Una bisa fokus bermain, atau saya ajak bernyanyi, ritual sebelum tidur saya buat lebih lama (sikat gigu, cuci muka, bahkan senam), hingga pada akhirnya lupa dengan menyusu. Saya coba tawarkan beberapa ritual pengganti menyusu seperti pijit, gosok-gosok punggung, dan pada akhirnya Una lebih memilih gendong atau peluk sambil duduk menghadap saya.

Saya merasa belum sepenuhnya sukses WWL, karena ada saat dimana Una menangis karena tidak bisa dialihkan dari menyusu lalu digendong dan tidur bersama mbah nya agar tidak lagi ingat menyusu. Tapi kini di usianya 25bulan 5hari, Una sudah bisa benar-benar lepas dari ASI. Dengan sendirinya dia akan minta peluk atau gendong sesaat sebelum tidur sebagai ganti ritual menyusu.

2 tahun yang sangat penuh kesan dan kenangan. 2 tahun yang tak akan pernah terhapus dari ingatan. Memori yang sangat indah untuk diingat, tapi tidak untuk dirindukan kembali, karena waktu selalu berjalan ke depan. Biarlah memori yang ada menjadi kenangan untuk saya dan Una. Karena waktu tak akan pernah berhenti, pun berjalan mundur kembali ke masa 2 tahun indah itu. Kini saatnya terus mengukir kembali memori untuk masa depan.

Una.. Terima kasih sudah memberikan pengalaman indah di 2 tahun pertama pengalaman menjadi ibu.. 

lewat tengah malam, sembari merasakan pelukan hangatmu, Una-

Nugget Una

Pict from instastory @yulia6789

Beberapa waktu lalu saya share foto nugget yang saya buat untuk stok lauk frozen food Una. Ceritanya saya memang tidak selalu sempat tiap hari memasak, jadi saya suka bikin stok lauk atau cemilanyang bisa dimasukkan freezer dan tinggal goreng atau dihangatkan saat akan makan.

Baca : Trial (again)

Beberapa teman bertanya resep dari nugget yang ada di gambar.. Jadi saya bagikan saja disini.. Bagi yang inginmencoba, dapat disesuaikan selera masing-masing

BAHAN :

1. 500g daging ayam/udang/ikan

2. 2 lembar roti tawar yang dibasahi susu cair (kurang lebih 75ml)

3. 3 butir telur (1 untuk campuran adonan, 2 untuk pelapis luar nugget

4. Tepung terigu

5. 1 buah wortel diparut kecil

6. Tepung roti

BUMBU

1. 4 siung bawang putih

2. 2 siung bawang merah

3. Bawang bombay (bila ada)

4. Gula secukupnya (under 1y bs skip)

5. Garam secukupnya (under 1y bs skip)

6. Merica secukupnya (under 1y bs skip)

CARA PEMBUATAN :

1. Blender ayam/udang/ikan hingga halus (bisa gunakan food processor)

2. Masukkan roti tawar yg dibasahi susu cair, 1 butir telur, 2 sdm tepung terigu, ke dalam blender berisi ayam/udang/nugget

3. Goreng bawang putih, bawang merah (dan bawang bombay bila ada). Haluskan bersama gula, garam, merica secukupnya (sesuai selera)

4. Masukkan bumbu (3) serta wortel yang telah diparut ke dalam adonan nugget. Campur rata

5. Masukkan adonan ke dalam wadah, kukus selama 20menit. Setelah matang, keluarkan hingga suhu ruang.

6. Potong nugget sesuai selera. Baluri dengan tepung terigu-telur-tepung roti. Simpan dalam freezer. 

Nah… Jika ingin makan nugget, tinggal keluarkan dari freezer kemudian digoreng hingga kuning kecoklatan. Taraa… Nugget siap disantap…

di tengah hari cerah menanti bel untuk kembali beraktifitas-

D’Rainbow

Rainbow… Pelangi… Berbagai warna itu menyatu menjadi putihnya persahabatan yang aku sendiri tak pernah tau bagaimana ini semua bermula… Dan aku masih mencoba merunut…

Ferry-Nami-Yulia

Kami bertiga dulunya sekolah di SMP yang sama, tapi tidak pernah sekelas. Bertemu di sekolah, iya memang. Berorganisasi bersama, bercanda bersama, sampai saling diam pun pernah.

Lepas dari SMP, kami masih di SMA yang sama (bosan?? Entah..). Kami masih saja bertemu di sekolah setiap harinya, belum lagi di kegiatan luar sekolah macam les. Mungkin takdir memang selalu mempertemukan kami.

Lepas SMA, kami menempuh jalan masing-masing. Tapi nyatanya masih saja takdir membuat kita tetap bisa bersua entah dimanapun itu. Ya, kami melanjutkan lagi kisah persahatan yang sempat terjeda jarak dan waktu.

Beberapa teman dari kami turut mewarnai persahabatan yang ada, datang dan pergi. Dan skuad kami pun menetap menjadi 5 orang.

Pandu – Ferry’s friend that also join us

Uma – sahabatku di kampus yang ternyata se frekuensi sama d’rainbow

5 orang, dengan latar belakang berbeda. Profesi dan asal tempat bisa saja sama, namub karakter kami berbeda. Dan kami maaih bisa menyatukan warna yang ada hingga pelangi itu indah mewarnai hidup.

Ferry-Uma-Yulia-Nami-Pandu (harap abaikan pria di tengah yang bukan geng tapi selalu ikutan poto)

Nikahan Pandu… ada yang udah tekdungdung

Dan aku baru sadar, aku hampir tak punya foto lengkap kami berlima. Mungkin sepertiny karena selalu ada yang jadi tukang jepret saat kami berkumpul. Atau bahkan tak ada foto bersama, karena kami terlalu sibuk membersamai waktu.

Nami’s wedding. Tuh kan pria batik blackwhite ikutan poto terus

Last but not least (Lagi-lagi ada yang selalu ikut poto)

Dan pada akhirnya kami semua telah menemukan belahan jiwa kami masing-masing. Namun itu semua bukan berarti pelangi tak lagi indah, karena sekarang warna itu bertambah. Semoga semua kan tetap selalu indah, bagai pelangi yang masih dan tetap akan indah setelah hujan. Dan semoga segera muncul little rainbow selanjutnya… Amin…

ASIP Itu Pun Turut Mengudara

Ketika mendapatkan pemberitahuan bahwa saya akan ikut trip ke Thailand, yang terpikir pertama kali adalah bagaimana Una?? Una (saat itu masih 12bulan) belum mau coba susu selain ASI/ASIP, apakah nanti ASIP yang ada cukup untuk Una? Bagaimana saya selama perjalanan bisa tetap mempertahankan produksi ASI? Apakah ketika kembali Una masih mau langsung menyusu ke gentongnya?? (Kayaknya banyak yang muncul ya, bukan pertama aja nih..)

Setelah perundingan dengan suami mencapai kesepakatan, maka diputuskan saya akan ikut berangkat dengan pertimbangan sebagai berikut:

1. Saya harus kembali memompa malam dan dini hari agar stok ketika saya berangkat cukup hingga saya kembali pulang (karena saat itu Una sama sekali menolak susu selain ASIP)

2. Saya akan memompa selama pergi untuk mempertahankan produksi ASI dan mencegah mastitis (kalau sampai mastitis dan meriang, ngetrip tidak lagi riang.. Hehe)

3. Sounding Una (dan pastinya diri sendiri) bahwa hanya 4 hari saya dan Una tidak bersama, setelahnya akan kembali berpelukaaaann dan pastinya nggentong lagi. Ini untuk meminimalisasi rewel ketika ditinggal.

Awalnya saya berniat memompa hanya untuk rutin mengosongkan PD. Tapi alangkah sayangnya jika ASIP harus dibuang. Alhasil setelah bertanya kesana kemari dan browsing sana sini, saya yang mulanya tidak yakin akan bisa membawa pulang ASIP jadi bersemangat untuk mencoba membawa ASIP ketika pulang bagaimanpun hasilnya.

Persiapan pun dimulai. Beberapa barang yang dibawa antara lain:

1. Pompa ASI. Saya bawa 1 pompa portable 1 pompa manual, 1 silicone pump untuk tandem.

2. Coolerbox & coolerbag. Saya bawa coolerbox untuk membawa pulang ASIP ke Indonesia. Coolerbag untuk saya gunakan menyimpan ASIP ketika aktivitas luar selama di Thailand.

3. Kantong ASIP & Spidol. Saya gunakan kantong karena lebih fleksible dan ringan dibandingkan dengan botolkaca. Spidol tentunya untuk msnuliskan identitas pada kantong ASIP.

4. Icepack/Icegel. Saya bawa 7 buah icegel

5. Apron menyusui. Agar bisa leluasa memompa dimanapun. Saya sempat sekali memompa di pesawat, sekali di bandara Soetta dan sekali di bandara Thailand ketika akan pulang.

6. Sterilizing tablet. Digunakan untuk sterilisasi alat pompa. Memudahkan agar tidak perlu merebus atau mengukus.

7. Tissue, tissue basah, hand sanitizer. Tidak selalu kita bisa menemukan tempat cuci tangan terlebih dahulu sebelum memompa.

Yang nggak boleh sampai ketinggalan

Awal berangkat coolerbox berisi 5 icegel saya masukkan ke dalam koper, karena ada batasan membawa cairan di kabin pesawat. Saya hanya membawa coolerbag berisi 2 icegel dan pompa ASI. Saya sempat sekali memompa ASI di bandara Soetta. Sempat lupa bilang bahwa isi coolerbag adalah ASIP dan pompa ASI, jadi saat di XRay diberhentikan dan diminta membuka coolerbag untuk di cek.

Ketika akan pulang ke Indonesia, seluruh ASIP hasil memompa saya masukkan ke dalam coolerbox beserta seluruh icegel. Tidak lupa saya beri tulisan “BREASTMILK”agar andai saya lupa bilang tidak perlu dapat banyak pertanyaan seperti saat berangkat. Saya sempat sekali memompa di bandara Thailand sebelum berangkat kembali menuju Jakarta.

Selama di Thailand, karena ada agenda pindah kota dan ganti hotel, maka saya memilih untuk tidak membekukan ASIP saya. ASIP saya masukkan kulkas kamar, ice gel saya titipkan freezer hotel. Baru di malam terakhir setiba di Jakarta, saya titipkan semuanya (ASIP & icegel) pada resepsionis hotel untuk diletakkan dalam freezer. Dengan pertimbangan saya bepergian tidak sampai 1 minggu (4h3m). Serta perjalanan pulang Jakarta-Surabaya yang tidak memakan waktu lama, sehingga kemungkinan ASIP beku mencair lebih kecil.

Udah mirip penjual es. Harus PD nenteng coolerbox isi ASIP

Antri check in, puku biru tetep eksis ga boleh ketinggalan.

Oleh-Oleh untuk Una

Ruang menyusui Don Mueang International Airport Thailand. Sempat memompa sekali disini

Sampai dirumah dengan selamat

MengASIhi memang tidak mudah, butuh support system yang kuat, tekad bulat, mental baja. Me time boleh, tapi hak anak atas ASI harus tetap terpenuhi. Semangat ASI… 9 months to S3…
-almost midnight, looking at your sweet face, Una-

Anak : Hak Prerogatif Sang Khaliq

Setiap orang yang menikah, disadari atau tidak pasti memiliki keinginan untuk memiliki keturunan. Siapapun itu, dimanapun berada. Entah kenapa dan darimana rumus bahwa “setelah menikah pasti segera punya keturunan, kalau tidak berarti ada masalah” ini muncul. Bahwa tiap orang yang menikah harus punya anak, bahwa sebelum punya anak berarti tidak bahagia.

Mindset yang ada di masyarakat selama ini masih mengedepankan hal tersebut. Maka tidak heran jika masih banyak komentar bernada miring jika terlihat pasangan yang belum dikaruniai keturunan.

Saya sempat merasakan “ditodong” pertanyaan “kok belum hamil?”, “udah isi belum?”, “kenapa ditunda?” (Padahal sama sekali nggak nunda), dan pertanyaan lain sejenis yang mungkin semua orang sudah hafal di luar kepala.

Dan sejujurnya, ditodong pertanyaan semacam itu rasanya tidak nyaman. Seakan hal tersebut murni karena andil dari saya dan suami, seakan mereka lupa bahwa semua yang terjadi bukankah telah ditulis di Lauhul Mahfudz? Bukankah semua hal terjadi atas kehendak Allah?

Baca : Takdir : Biarlah Menjadi Urusan Allah

Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.

QS Asy-Syura 49-50

Bahwa semua hal terjadi atas kehendak Allah, ya, apapun itu. Bahkan sekuat apapun kita berusaha, jika Allah tak berkehendak maka takkan terjadi.

Baca : Everything Happens for a Reason

Oleh karena itu, maka jangan heran jika ada yang bertanya pada saya “si A sudah isi belum?”, “si B kok belum hamil apa ditunda ya?”, dan saya menjawab dengan “tidak tahu”. Karena saya pernah merasa ditanya seperti itu rasanya tidak nyaman, jadi saya nggak pernah bertanya seperti itu pada pasangan baru. Toh jika pun sudah hamil pasti akan terlihat, atau tanpa diminta mereka akan bercerita.

Maka janganlah turut mencampuri apa yang telah menjadi hak prerogatif Allah. Karena Allah, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, lebi tahu apa yang terbaik bagi makhluknya.

-terinspirasi dari tulisan tentang tema yang sama di  http://www.dianonasis.com/2015/06/anak-itu-hak-allah.html?m=1

Scrapframe 

Scrapframe minimalis dengan bahan sederhana

Ketika kita bicara scrapframe, yang terbayang adalah sebuah frame dengan isi didalmnya berisi berbagai foto dan hiasan di dalamnya. Kita bisa membuat scrapframe sendiri dengan sederhana, dan bahan yang mudah ditemukan di dalam rumah.

Ini scrapframe yang saya buat untuk Una. Bahan yang digunakan tidak banyak. Sebaiknya ketika kita ingin membuat scrapframe sendiri, kita sudah menentukan konsep terlebih dahulu. Jadi tidak akan bingung di tengah jalan.

Kembali ke scrapframe yang saya buat untuk Una. Scrapframe simple dengan bahan sederhana. Alat dan bahan ini kebetulan ada dirumah (kecuali frame memang saya beli), antara lain:

  1. Frame (itu harus kerena bukan scrapframe kalau nggak ada frame nya)
  2. Kertas kado untuk background (pilihlah dengan motif yang sesuai konsep awal)
  3. Kertas lipat/kertas origami aneka warna/motif
  4. Foto yang akan dijadikan isi scrapframe
  5. Sterofoam (saya gunakan untuk efek timbul di beberapa bagian)
  6. Lem untuk sterofoam
  7. Tali dan penjepit foto (bisa beli di toko atk/toko buku semacam gramedia)
  8. Pines warna warni📌
  9. Pita kain
  10. Stiker tempel
  11. Double tape, lem tembak
  12. Alat : gunting, cutter, penggaris, pensil, spidol dkk✂📏

Setelah saya siapkan seluruhnya, maka dimulailah kegiatan ini

  1. Menempelkan kertas kado ke untuk me jadi background frame
  2. Menata seluruh item sesuai dengan rencana konsep awal, dan menyesuaikan beberapa hal hingga dirasa pas dan siap di tempel/dipasang
  3. Menempel dan menggantung seluruh item yang ada, serta merapikan sudut-sudut yang dirasa kurang pas (untuk foto yang digantung, pines saya tancapkan pada sterofoam hingga sedikit menembus ke bagian background)
  4. Memasang kembali frame ke bentuk semula

Sebenarnya niatan saya membuat scrapframe ini ada sejak Una lahir, dengan isi foto newborn Una beserta segala informasi kelahirannya. Tapi baru bisa terlaksana justru di usia Una menjelang 1 tahun. Lumayan, anggap saja hadiah kecik untuk ulang tahun Una.

Semoga berikutnya bisa kembali msncoba membuat scrapframe yang lebih baik lagi.. Aamiin..🙏

almost midnight, selepas pompa malam sesi terakhir 😉-

1 Untuk Una

5 Desember 2015…

Adalah saat pertama kali mendengar tangisanmu bersamaan dengan adzan maghrib saat itu. Setelah secukupnya dibersihkan, langsung kau bersiap menggeliat di dada Mama. Jemarimu meraba pelan sekitar, mencari mata air surga yang disiapkan untukmu. Dan kau mulai belajar menikmati tetes demi tetes yang entah Mama pun tak tau seberapa banyak. Ah.. masa itu.. masih terfikir bagaimana Allah telah mengajarimu bertahan hidup sedemikian indahnya.
Una…

Hari ini usiamu genap 1tahun. Alhamdulillah telah mencapai S2 ASI. Ini berkat banyak support juga sayang, termasuk teman sekerja Mama (terima kasih banyak). Dan supporter utama yaitu Papa Una, yang telah sejak awal sangat membantu melancarkan ASI (termasuk mengajak jalan-jalan ketika Mama mulai dirasa berubah jadi monster cantik.. haha). Semoga kelak kita bisa sama-sama mencapai S3 ASI mu ya…

Una…

Mungkin hari ini ada banyak hadiah untukmu, tapi Mama tsk memberikanmu hadiah. Jikalau bisa disebut hadiah, Allah berikan hadiah melalui Mama berupa ASI yang terus cukup untukmu. Yang dengan itu Mama bisa penuhi hakmu akan ASI, yang semoga menjadikanmu individu yang sehat, kuat dan tangguh. Karena tiap anak yang dilahirkan berhak atas ASI.

Una…

Terima kasih, setahun ini kau mengajarkan kami bagaimana menjadi orang tua. Tidur tanpamu, maka nyenyak pun tak ada, pergi kencan tanpamu pikiran pun tak nyaman. Karena kau sudah jadi bagian diri kami. Banyak hal yang kami pelajari, terutama sabar. Belajar bagaimana menjadi contoh yang baik untukmu. Belajar berperilaku.

Una…

Bersama kita tempuh perjalanan menuju S3 ASI mu sayang. Tak akan bosan Mama memelukmu, tak akan lelah Mama mendekapmu di tiap malam. Karena Mama tahu, akan ada saatnya kau tumbuh mendewasa dan harus di lepas suatu saat nanti. Dan saat ini, tak akan Mama lewatkan tiap pelukan dan dekapanmu sayang.

Una…

Semoga kau akan selalu ingat Allah dan Rasulullah Muhammad. Semoga kelak kau menjadi sebaik-baik insan di dunia, bermanfaat bagu sesama.

Peluk & cium untukmu sayang

-MamaLia-

ASIP untuk Una

Sebagai working mom, keinginan untuk terus bisa memberikan tetes-tetes surga bernama ASI tetap membara. Dan caranya adalah memompa ASI dan menyimpannya untuk stok ASIP Una ketika saya bekerja.

Dimulailah pelajaran perah-memerah ketika Una berusia 1minggu. Kenapa 1minggu? Karena saat itu saya baru bisa membersihkan freezer dari penduduknya yaitu ikan dan daging. Dan mulailah rutinitas memompa menjadi sebuah kegiatan sehari-hari.

Pompa asi adalah hal terpenting yang harus saya bawa bekerja, karena tanpa itu rasanya proses perah memerah akan memakan banyak waktu. Kenapa tidak marmet? Karena untuk saya LDR baru tercapai lama ketika tangan telah lelah. Ketika sebelah mulai berasa LDR, baru sebelahnya marmet.

Menyusui adalah hak baik bagi ibu ataupun bayi. Dan kita, semestinya berjuang untuk memenuhi hak bayi kita, yaitu ASI selama 2tahun. Ketika ASI tak dapat cukup memenuhi, maka disarankan mencari donor ASI terlebih dahulu, barulah menggunakan susu formula.

Alhamdulillah, Una telah lulus S1 ASI, dan segers akan S2 ASI. Semoga bisa berlanjut S3.. Aamiin