Trip to Semarang (2)

Weekend lalu adalah long weekend bagi saya dan mas swami, karena libur tanggal merah dobel di sabtu minggu. Beberapa waktu sebelumnya sebenarnya kami sama sekali tidak menyadari. Tapi begitu sadar, akhirnya mulailah berfikir “kemana kita..?”.

Setelah menimbang, memperhatikan, dan meneliti lebih lanjut (halaaaah) maka diputuskan kami akan mengajak Una naik kereta api. Alasan untuk naik kereta api sebenarnya karena Una belum pernah naik kereta api. Kemudian memilih kota. Awalnya kami ingin “mantai”, mungkin Banyuwangi, tapi apadaya tiket habis karena kami tidak jauh hari merencanakan dan membeli tiket. Pada akhirnya pilihan jatuh pada Semarang, dengan pertimbangan waktu yang tidak terlalu lama dan yang tidak kalah penting kami pilih jam keberangkatan kereta malam agar saat di kereta harapannya Una sudah mulai mengantuk dan akan tidur.

Baca edisi pertamanya disini : Trip to Semarang

Hasilnya… jeng..jeng..jeng…

Kami berangkat pada Jum’at 16 Maret 2018 dari Stasiun Pasar Turi dengan kereta ArgoBromoAnggrek pukul 20.00, perkiraan tiba di Stasiun Tawang Semarang 23.20. Selama perjalanan, Una sama sekali tidak tidur. Padahal di mobil dari rumah menuju stasiun sudah mulai merem. Mungkin Una terlalu exited dengan pengalaman pertamanya naik kereta. Yasudahlah pada akhirnya Una menyanyi, makan, nyemil di dalam kereta. Sementara mata kami yang dewasa sudah mulai ingin terkatup.

Una pose di stasiun

Sampailah kami di stasiun Semarang Tawang, dan karena lapar maka kami mencari sesuap nasi dulu. Akhirnya daripada jauh ya sudahlah ke gerai C*C yang ada di stasiun. Kami dijemput oleh kenalan Mas Swami yang ad di Semarang. Alhamdulillah Una baru masuk mobil sudah amblas. Mungkin dia memang dari awal antara menahan kantuk tapi excited naik kereta. Jadinya melek terus sepanjang perjalanan.

Vuew pagi yang cerah, dan Una pun cerah ceria

Kami sengaja bangun pagi untuk sarapan lebih awal kemudian tujuan utamanya adalah…. Berenang… karena Una paling tidak tahan melihat genangan air. Pastilah langsung cebuur…

Setelah sarapan, kami sempat beefoto sebelum berenang. Satu hal yang baru saya sadari adlah kenyataan bahwa Una sudah sangat mahir bergaya. Mungkin genetis.

Kami menginap di Balemong Resort. Awalnya tempat ini hanyalah sebuah restoran dengan live music di penghujung minggu. Namun pada akhirnya berkembang menjadi penginapan yang sangat nyaman dengan beberapa tipe. Tempat yang luas totalnya mencapai 5ha ini terdapat banyak fasilitas seperti kolam renang, playground, jogging track, persewaan sepeda, dan yang seru kami dari lobby menuju kamar diantar oleh mobil golf karena jarak yang memang cukup jauh. Ketika akan ke lobby, kami bisa telepon receptionist untuk minta dijemput juga. Suasana tenang untuk liburan keluarga.

Siang hari kami pergi ke Cimory on the Valley. Kami silaturrahim dengan salah seorang teman Mas Swami (banyak banget temennya). Tempat makan sekaligus outlet produk Cimory. Kami tidak hanya makan, tapi dapat juga menikmati jalan-jalan ke lembah dengan banyak spot foto serta… hewan ternak… iya, sapi, kelinci, ayam, kambing, bisa kita lihat disana. Sesuai untuk pengunjung dengan anak kecil, sekaligus media pembelajaran. Terlebih lagi tiket masuknya dapat ditukar produk yoghurt Cimory. Sayangnya saat kami disana gerimis mengguyus, sehingga kurang maksimal berswafoto.

Silaturrahim edisi 2 berlanjut di sore hari, lebih tepatnya mungkin malam. Kami bertandang ke rumah salah seorang kakak sepupu yang juga berada di Semarang. Tifak terlalu lama kami disana, karena memang suasana sudah hampir larut dan Una mengantuk.

Daan… kami salah… ketika kami sampai di hotel, Una kembali bangkit. Maalah masih makan mie juga.

Hari ke tiga yaitu Minggu, agenda kami memang hanyak akan beristirahat. Tidak pergi jauh, hanya mungkin akan mampir di beberapa tempat yang searah dengan jalan menuju stasiun.

Kami kembali naik kereta di stasiun Semarang Tawang dengan menaiki kereta ArgoBromo Anggrek. Dan pad akhirnya berakhirlah perjalanan kami di Semarang (untuk edisi kali ini).

Sampai jumpaa di lain kesempatan..

Karena esensi sebuah perjalanan adalah silaturrahim

Iklan

WWL : 2 Years Journey

Setiap anak yang lahir ke dunia, memiliki hak akan ASI. Maka kewajiban seorang ibu adalah memenuhi hak anak akan ASI semaksimal mungkin, kecuali ada indikasi medis tertentu. Pun seorang bayi, adalah manusia seutuhnya yang memiliki hak untuk mengambil keputusan. Keputusan terbesar pertama seorang bayi adalah ketika dia menentukan kapan saatnya berhenti menyusu. Tugas orang tua adalah membimbing serta mendampingi anak agar dapat dengan sama-sama ikhlas menyudahi proses mengASIhi.

Flashback di masa awal menyusui Una, saya sangat ingat bagaimana rasanya puting lecet berdarah sampai saat dipompa ASI jadi sperti susu stroberi. Uuhh… Rasa perihnya seakan luka yang ditaburi garam.

Baca : MengASIhi Una

Ditambah lagi dengan perasaan babyblues yang melanda. Karena di saat yang sama saya ingin berduaan dengan Una, tamu tak henti berdatangan, inginmemeluk dan cium Una. Sementara gerak saya masih terbatas dan dengan banyak sekali aturan sebagai orang jawa.

Baca : My Babyblues Syndrome

Banyak pengalaman menarik antara saya dan Una. Seperti ketika saya mendapatkan tawaran kantor untuk sebuah perjalanan wisata ke Thailand. Awalnya saya ragu untuk berangkat, namun saya merasa seorang ibu baru seperti saya butuh juga me time sekedar untuk menjaga kewarasan. Dengan segala pertimbangan dan tentunya hak Una akan ASI harus tetap terpenuhi, saya pun berangkat.

Baca : ASIP Itu Pun Turut Mengudara

Cerita WWL Una dimulai di usia Una 18 bulan. Saat itu saya memang telah mencoba membiasakan Una ketika terbangun tengah malam untuk duduk kemudian belajar minum air dari botol minum (bukan dot) semacam tup***ware. Tapi saat itu memang tanpa adanya sounding untuk WWL.

Una di usia 20 bulan sudah bisa dan terbiasa ketika terbangun malam duduk dan minum air kemudian kembali tidur lagi. Saya pun mencoba mulai sounding, “Una nanti setelah ulang tahun ke 2 sudah ndak mik mama ya, udah ndak mik gentong.. Mik air dari gelas atau botol, mik jus pake sedotan..”. Kurang lebih begitulah souding yang saya berikan.

Orang-orang di sekitar seketika ikut juga “bermaksud sounding”, cuma sepertinya malah Una merasa semacam digojloki (hmm.. Bahasa Indonesianya apa ya… Diejek atau diledekin mungkin). “Ayo.. Mik nya sudah…”, “ayo wes gek ndang dipedhot ae (ayo segera diakhiri saja)”, “olesi kunir ae ben gak arep (olesi kunir saja biar tidak mau)”. Entah kenapa memasuki usia 22bulan malah semakin posesif, semakin lengket dan tidak mau lepas. Hoho… Saat itu keadaan hampir sukses membuat saya berfikir mungkin memang belum saatnya. Tapi di sisi lain tidak dipungkiri lingkungan pada dasarnya masih menganut model penyapihan paksa seperti era saya bayi dulu. Saya sedikit banyak terbawa mood Una juga. Sempat sedikit ada gesekan dengan mbah nya Una tentang penyapihan. Setelah pembahasan maka sepakat bahwa saya bisa WWL dengan dimulai dari saat itu agar nanti tidak jauh terlewat dari ulang tahun ke 2 nya Una sudah lepas ASI.

Frekuensi menyusu pun saya kurangi bertahap yang awalnya minimal menyusu langsung 3x menjadi hanya 2x yaitu pagi bangun tidur dan saat sebelum tidur malam. Hingga di usia nya tepat 2 tahun, Una mulai belajar hanya menyusu saat malam sebelum tidur. Pagi hari ketika bangun saya langsung tawarkan minum air, cemilan, dan mainan. Tujuannya agar sesi menyusu di pagi hari terlewat.

Sangat sulit membuat Una lupa dan teralihkan dari menyusu di malam sebelum tidur. Bisa jadi malam ini bisa kardna sudah ngantuk berat dan lelah bermain, tapi malam keesokan harinya kembali teringat. Pada akhirnya saya harus membawa semua mainan kesukaan Una ke kamar agar Una bisa fokus bermain, atau saya ajak bernyanyi, ritual sebelum tidur saya buat lebih lama (sikat gigu, cuci muka, bahkan senam), hingga pada akhirnya lupa dengan menyusu. Saya coba tawarkan beberapa ritual pengganti menyusu seperti pijit, gosok-gosok punggung, dan pada akhirnya Una lebih memilih gendong atau peluk sambil duduk menghadap saya.

Saya merasa belum sepenuhnya sukses WWL, karena ada saat dimana Una menangis karena tidak bisa dialihkan dari menyusu lalu digendong dan tidur bersama mbah nya agar tidak lagi ingat menyusu. Tapi kini di usianya 25bulan 5hari, Una sudah bisa benar-benar lepas dari ASI. Dengan sendirinya dia akan minta peluk atau gendong sesaat sebelum tidur sebagai ganti ritual menyusu.

2 tahun yang sangat penuh kesan dan kenangan. 2 tahun yang tak akan pernah terhapus dari ingatan. Memori yang sangat indah untuk diingat, tapi tidak untuk dirindukan kembali, karena waktu selalu berjalan ke depan. Biarlah memori yang ada menjadi kenangan untuk saya dan Una. Karena waktu tak akan pernah berhenti, pun berjalan mundur kembali ke masa 2 tahun indah itu. Kini saatnya terus mengukir kembali memori untuk masa depan.

Una.. Terima kasih sudah memberikan pengalaman indah di 2 tahun pertama pengalaman menjadi ibu.. 

lewat tengah malam, sembari merasakan pelukan hangatmu, Una-

Nugget Una

Pict from instastory @yulia6789

Beberapa waktu lalu saya share foto nugget yang saya buat untuk stok lauk frozen food Una. Ceritanya saya memang tidak selalu sempat tiap hari memasak, jadi saya suka bikin stok lauk atau cemilanyang bisa dimasukkan freezer dan tinggal goreng atau dihangatkan saat akan makan.

Baca : Trial (again)

Beberapa teman bertanya resep dari nugget yang ada di gambar.. Jadi saya bagikan saja disini.. Bagi yang inginmencoba, dapat disesuaikan selera masing-masing

BAHAN :

1. 500g daging ayam/udang/ikan

2. 2 lembar roti tawar yang dibasahi susu cair (kurang lebih 75ml)

3. 3 butir telur (1 untuk campuran adonan, 2 untuk pelapis luar nugget

4. Tepung terigu

5. 1 buah wortel diparut kecil

6. Tepung roti

BUMBU

1. 4 siung bawang putih

2. 2 siung bawang merah

3. Bawang bombay (bila ada)

4. Gula secukupnya (under 1y bs skip)

5. Garam secukupnya (under 1y bs skip)

6. Merica secukupnya (under 1y bs skip)

CARA PEMBUATAN :

1. Blender ayam/udang/ikan hingga halus (bisa gunakan food processor)

2. Masukkan roti tawar yg dibasahi susu cair, 1 butir telur, 2 sdm tepung terigu, ke dalam blender berisi ayam/udang/nugget

3. Goreng bawang putih, bawang merah (dan bawang bombay bila ada). Haluskan bersama gula, garam, merica secukupnya (sesuai selera)

4. Masukkan bumbu (3) serta wortel yang telah diparut ke dalam adonan nugget. Campur rata

5. Masukkan adonan ke dalam wadah, kukus selama 20menit. Setelah matang, keluarkan hingga suhu ruang.

6. Potong nugget sesuai selera. Baluri dengan tepung terigu-telur-tepung roti. Simpan dalam freezer. 

Nah… Jika ingin makan nugget, tinggal keluarkan dari freezer kemudian digoreng hingga kuning kecoklatan. Taraa… Nugget siap disantap…

di tengah hari cerah menanti bel untuk kembali beraktifitas-

Motherhood

image

Saya suka sekali dengan quote di gambar itu. Gambar tersebut saya dapat dari foto bbm salah seorang teman dari suami saya.. makasih ya mbak Itha boleh copas gambarnya..

Seringkali terdengar adanya “perbandingan” antara satu ibu dengan lainnya. Working mom vs stay at home mom, SC vs spontan per vaginam, ASI vs sufor, pospak vs popok kain, dan banyak lain yang mungkin bisa di “versus”kan.

Rasanya ibu yang baik adalah yang mengasuh anaknya dengan baik & bahagia, menurut versinya sendiri dan tanpa membandingkan diri, pun anaknya, dengan orang lain.

Menjadi ibu yang bahagia itu penuh tantangan dan godaan memang. Melihat ibu lain posting foto ASIP sekulkas penuh sementara di sisi lain ada ibu yang kejar tayang atau bahkan sulit baginya untuk menyisihkan sedikit ASI untuk disimpan, seperti itu akan bikin stress secara tidak sengaja. Melihat ibu yang bisa mengasuh sendiri anak-anaknya, sementara sebagian kita dengan terpaksa menitipkan buah hati, itu akan membuat tekanan tersendiri. Mendengar beberapa anak dari ibu berkembang baik dengan BB yang menggiurkan, tapi tidak dengan beberapa yang lain.

Ya.. tiap kondisi ibu memang berbeda. Situasi dan lingkungan pun tidak selalu sama. Pun dengan tumbuh kembang anak-anak kita. Maka menjadi ibu yang bahagia dengan versinya sendiri itu penting, sepenting pula membiarkan anak kita tumbuh dan berkembang dengan dirinya sendiri. Tak perlu penghakiman orang lain, tanpa membandingkan dengan yang lain..

Berbahagialah, karena Anda pasti akan menjadi ibu terbaik bagi anak-anak Anda, bukan anak-anak orang lain. Pun anak-anak Anda adalah yang anak-anak terbaik bagi Anda, bukan ibu yang lain..

Every mom has her own batle..
Every children has their own playground..

malam 7Ramadhan, memandang lelapnya Una di hening malam-

A Story Book : Lembaran Foto & Coretan Pena

image

Afilia's Book

Sebuah buku usang…
Ya… yang bagi orang lain pasti tak akan berarti…
Yang berisi lembaran foto dan goresan pena amburadul…

Sekarang tak akan ada yang menganggapnya berarti, tapi suatu saat ketika suaraku tak lagi mampu menceritakan apapun kepada anak-anak kita, mereka kan mampu menggambarkan masa lalu..

Bahwa ayahnya pernah begitu sabar menanti ibunya, bahwa ibunya pernah sangat jatuh cinta pada ayahnya. Bahwa orang tua mereka pernah melalui kisah berliku yang kemudian menjadi bahagia…

image

The story begin

Bahwa orangtua mereka pernah juga kurus (karena sekarang pun sudah ‘membesar’)
Bahwa ada banyak mimpi yang terlukiskan
Bahwa tak pernah ada senyum yang terlewat ketika kita bersama

image

Dream Zone

Suatu saat ketika hanya lembaran foto dan goresan pena yang bisa mereka pandang, mereka kan mengerti bahwa hidup tak mudah memang. Tapi segalanya dengan karunia Allah kan jadi indah…
Bahwa jalan cerita yang Allah takdirkan memang indah pada waktuNya…

image

Adventure

Dan mereka akan pula memulai kisah mereka sendiri, karena waktu tak pernah kanberjalan mundur, pun jalan di tempat. Waktu, dengan dirinya sendiri kan membersamai mereka merangkai kisah masa depan. Karena tak kan selamanya kita membersamai mereka…

For You Mas Swami…
I Love You much-much more
Karena Allah telah jadikanmu imamku… Barakallahulana…

image

Anak panah

image

Anakmu bukan milikmu
Putri sang hidup yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir
Tapi bukan dari engkau
Berikan mereka kasih sayangmu
Tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri
Kau boleh berusaha menyerupai mereka
Tapi jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tak pernah berjalan mundur
Pun tenggelam di masa lampau
Kaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan Sang Pemanah
Sebab Dia mengasihi anak panah yang meluncur laksana kilat
Sebagaimana dikasihi-Nya pula busur yang mantab

-Sang Nabi, Gibran-

Naluri wanita : Home vs office

image

Woman... the most multitalent person

Wow… setelah berkutat dengan audit CPKB yang bikin agak lelah.. yah ini saatnya refresh otak yuhuu…

Mungkin tema hari ini sudah banyak dibahas. Saya hanya berbagi apa yang real terjadi, ya bisa dibilang pengalaman pribadi sebenarnya.

“Sebenarnya cita-citaku nanti kalau sudah punya anak mau jadi IRT atau mungkin kerja dirumah semacam ngelesi aja bu”, gumamku
“Lha ngapain, sekolahnya tinggi kok cuma di rumah?”
“Ibu aja dulu maunya jadi PNS, tapi nggak kesampean, cuma jadi guru kontrak aja”

Tidak sedikit memang wanita mengalami perang batin tentang kodratnya. Beberapa ada yang ingin benar-benar jadi wanita dengan tinggal dirumah dan mengurus anak, tapi tak ada dukungan sekitar. Ada pula yang malah tekun bekerja di lur rumah tanpa kenal waktu.

Tak ada salahnya memang bekerja di luar rumah, asal tidak sampai lupa dengan kodrat sebagai wanita. Pun tak ada salahnya jika menjadi ibu rumah tangga yang full mengurus anak dan rumah merupakan pilihan diri.
Memang, akan selalu ada konsekuensi yang mengikuti sebuah pilihan. Dan itu mutlak diingat dan jadi pertimbangan sebelum mengambil keputusan.

Ketika di masa kecil, sedih itu ketika saatnya pembagian raport tapi tak ada orangtua yang datang menemui wali kelas untuk mengambilnya, karena memang orangtua sejatinya sedang membagikan raport di tempat (baca: sekolah) lain.
Sedih itu ketika ingin bercerita tentang sesuatu, namun hanya bisa menuliskannya di diary kecil tempat mencurahkan segala rasa. Sementara teman-teman bahkan selalu bisa langsung bertemu ibu ketika pulang sekolah, sedangkan yang ada padaku adalah kunci rumah.

Itulah kenapa saya bercita-cita untuk jadi realmom nantinya. Walau mungkin belum semua bisa memahaminya, dan sekarang pun saya masih berkutat dengan pekerjaan di luar rumah. Karena menjadi orang pertama tempat anak mengungkapkan rasa itu menyenangkan.

Tak jadi masalah ketika pilihan kita memang tetap mengaplikasikan ilmu di luar rumah, selama tidak meninggalkan kewajiban sebagai istri & ibu.
Dan salut pula ketika wanita dengan lantang ingin bisa tetap di rumah dengan segala kerepotannya.

Woman.. Make your choice and take the responsibility

-Saturday morning, remembering my childhood memory-

Ikatan itu bernama pernikahan

image

My silver-gold wedding ring

Ve : Mbak, gini setelah nikah bosen nggak sama suami?
Me : Ya nggak lah… ga ada namanya bosen… malah nyariin kalo ga ada
Ve : Pernah berantem? Ato ngambek gitu?
Me : Oh ya pasti pernah, justru kalo datar malah aneh
Ve : Pernah nggak ada masalah misal keuangan ato keluarga?
Me : Ya kadang ada aja, tapi Allah pasti kasih rizki untuk yang sudah menikah
Ve : Aku kadang takut, merasa belum siap nikah…

Itu sekelumit percakapanku dengan seorang teman sekantor. Sebagai sesama wanita kadang kami saling bertukar cerita.

Menikah… ya memang ketika dihadapkan dalam pernikahan, sering dalam hati mempertanyakan kesiapan diri
Sudah siapkah aku?
Sanggupkah aku menjadi istri yang baik?
Apakah nanti gaji kami tidak cukup untuk biaya hidup?
Dan banyak lagi yang lainnya (nada bang haji..hehe)

Dan kawinkanlah orang yang sendirian di antara kamu dan hamba sahayamu yang pantas kamu nikahi. Jika mereka miskin maka Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya
– QS An Nur : 32 –

Rasulullah SAW bersabda”Apabila seorang laki-laki menikah, maka sesungguhnya dia telah menyempurnakan setengah agamanya, maka hendaklah dia selalu bertakwa kepada Allah dalam menyempurnakan detengah yang lainnya
-HR. Thabrani-

Pasti masih banyak dalil lain yang menyebutkan betapa manfaat menikah, yang belum tertuang di sini.
Memang banyak hal baru yang akan kita jumpai setelah menikah. Karena menikah memang bukan akhir dari petualangan cinta, melainkan awal dari sebuah perjalanan hidup yang baru. Dengan separuh agama dalam genggaman tangan, dan tanggung jawab yang menyertai kata “Qobiltu”.

Yang harus diyakini bahwa Allah akan meluaskan rizki kita (awalnya rizki satu orang, trus dua orang digabung.. jadi banyak.. hehe).
Akan ada rasa tenang, rasa berkasih sayang. Memang, jatuh cinta hanyalah pada permulaan sebuah hubungan. Yang memeliharanya adalah kasih sayang (kata pak Mario Teguh ini).

Pernikahan merupakan perjanjian yang agung, yang sangat berat (mitsaqan ghalidza). Namun jika dijalankan dengan sungguh-sungguh dan penuh keinsyafan (cuplikan naskah sumpah apoteker ini) di jalan Allah, tak akan terasa memberatkan.

Kadang tak dipungkiri akan ada rasa jenuh, rasa ingin marah pada pasangan. Namun yang perlu diingat, bahwa dia yang telah Allah ciptakan untukku sebagai teman hidup. Maka persahabatan dan kasih sayanglah yang selayaknya kita bagikan. Bersama, “saling” dalam segala hal..

Hanya 5 menit…
Yang haram menjadi halal
Yang laknat menjadi nikmat
Yang dosa menjadi pahala
Yang murka menjadi barokah

Maka, kenapa harus takut menikah? 🙂

-Isya’, menanti suami ditemani rintik gerimis-

Trial and error

Minggu ini memang jadwal kerjaku masuk siang. Entah kenapa, biasanya aku yang justru suka berleha-leha saat masuk siang (karena lebih santai & merasa banyak waktu dirumah) kali ini malah getol pingin ke dapur. Terinspirasi dari beberapa teman yang trial makanan tertentu..

Mas Swami pun memang pada dasarnya suka nyemil, jadilah umeg di dapur. Walaupun yang dimasakin pulangnya malem..

image

Selasa-bekal makan siang Mas Swami

image

Rabu-martabak mini sosis

image

Kamis-bulet semua hari ini

image

Jumat-Mumpung yang dimasakin ndak pulang, masak ini

Mungkin saat ini mulai merasa kenapa dulu ketika akhir pekan pulang kerumah setelah seminggu di kos, ibu pasti beribet di dapur masak ini itu untukku.. dan juga beberapa waktu ini saat adekku pulang kerumah di tiap akhir pekannya…

Ya… kepuasan tersendiri bisa menyelesaikan dan memberikan hidangan sederhana yang disukai orang-orang tersayang. Ada perasaan puas yang membuncah ketika tak ada lagi yang tersisa untukku…

Semoga nantinya bisa terus banyak belajar, trial and error…

in the rainy afternoon waiting for your coming next 2days-

Terima Kasih Mas Swami

Ini cerita 8 november 2014, ya… ketika sendiri dirumah karena Mas swami memang harus nginap di kantor karena deadline tugasnya…

Sejak 16 Mei 2014 kehidupan baruku dimulai
Ya.. dengan status dan tanggungjawab baru tentunya..
From SINGLE to DOUBLE.. ehm.. maksudnya jadi istri..
Dan yang pasti menjalani kehidupan baru dengan seseorang yang biasa kusebut dia “MAS
SWAMI”.. 🙂

Dulu mungkin sama sekali tak pernah terfikirkan olehku akan punya pasangan hidup seperti Mas
Swami.. haha
Maklum saja, aku yang penggemar bollywood ini, percaya atau tidak sering kali berkhayal kisah
cintaku akan seperti di film india.. (ngayal puol…)
Terutama Shahrukh Khan…guanteng menurutku…
Dengan tampilan jeans & turtlenecknya itu (kalo ga
salah film Mohabbatein) yang keren banget, atau poloshirt plus jeans yg modis & sporty (pilem kuch kuch hota hai).. Trus kisah cinta dari musuhan jadi pasangan, dengan background kampusnya itu… (berhayal again :p)

Setelah tahun-tahun berlalu, yang kutemukan justru sosok yang jauuhh berbeda..
Bukan sosok populer di kampus (yaa emang ga sekampus juga siih..), bukan cowok dg perawakan
atletis kayak Shahrukh Khan, yang bahkan ketika itu sama sekali nggak pernah pakai celana jeans,
celana kain thok & semijeans sebiji (tenang… sekarang udah punya celana jeans sebiji hasil
coba2 lebaran kemaren.. wkwkwk^_^).. Plus batik
everywhere (bahkan pertama kali nonton loh batikan..welehweleh). Bukan sosok Shahrukh Khan
tapi SARUNGAN (betah banget pake sarung)… hihihi

Tapi justru sosok itu entah kenapa membuatku (yang saat itu belum ada apa2) berkata dalam hati “pasti yang jadi istrinya nanti bahagia” dan pelan2 membuatku sedikit merasa kagum..

Persahabatan yang terjalin pun tak pernah mengharapkan akhir cerita khusus.. “OK kita berteman”
Dan ketika di sendirianku, tanpa disangka orang ini mengejutkanku dengan permintaannya untuk bisa
menghabiskan sisa hidup bersama yang kujawab dengan singkat “ah bercandaa…”. Dan dibuktikan
dengan datang menemui Bapak Direktur & Ibu Suri untuk menyerahkan “proposal”… wohoo…

Setelah mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera… Telah sampailah
pada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa, mengantarkan kami ke pintu gerbang pernikahan.. ^^ #eh

Sekarang sampailah pada titik dimana aku bisa melihatnya terlelap setiap malam (kecuali lagi
training atau kerja kelompok sampe tidur di kantor.. v(“,) pizz mas).. Dan aku masih (semakin)
mengaguminya..
Merasa beruntung, dilahirkan di keluarga yang harmonis justru karena kocaknya, sekarang pun
diberikan Allah seorang imam sekaligus “bodyguard” & “teknisi” pribadi yang tak kalah kocak namun sabar dan pengertian (walau kadang nggemesno juga.. v(“,) maaf sayang… ^^). Romantis juga dia (kata temennya nih) :p

Hanya alhamdulillah yang bisa terucap.. Allah takdirkanku jadi bagian hidup Mas Swami
Mas Swami… Terima kasih telah dengan sabar menghadapiku… Jangan bosan untuk membimbingku… Tetaplah jadi imam terbaik di keluarga kita… Semoga Allah berkahi &
pertemukan sebagai jodoh di Jannah… Aamiin…

-Dek Istri-

image