ASIP Itu Pun Turut Mengudara

Ketika mendapatkan pemberitahuan bahwa saya akan ikut trip ke Thailand, yang terpikir pertama kali adalah bagaimana Una?? Una (saat itu masih 12bulan) belum mau coba susu selain ASI/ASIP, apakah nanti ASIP yang ada cukup untuk Una? Bagaimana saya selama perjalanan bisa tetap mempertahankan produksi ASI? Apakah ketika kembali Una masih mau langsung menyusu ke gentongnya?? (Kayaknya banyak yang muncul ya, bukan pertama aja nih..)

Setelah perundingan dengan suami mencapai kesepakatan, maka diputuskan saya akan ikut berangkat dengan pertimbangan sebagai berikut:

1. Saya harus kembali memompa malam dan dini hari agar stok ketika saya berangkat cukup hingga saya kembali pulang (karena saat itu Una sama sekali menolak susu selain ASIP)

2. Saya akan memompa selama pergi untuk mempertahankan produksi ASI dan mencegah mastitis (kalau sampai mastitis dan meriang, ngetrip tidak lagi riang.. Hehe)

3. Sounding Una (dan pastinya diri sendiri) bahwa hanya 4 hari saya dan Una tidak bersama, setelahnya akan kembali berpelukaaaann dan pastinya nggentong lagi. Ini untuk meminimalisasi rewel ketika ditinggal.

Awalnya saya berniat memompa hanya untuk rutin mengosongkan PD. Tapi alangkah sayangnya jika ASIP harus dibuang. Alhasil setelah bertanya kesana kemari dan browsing sana sini, saya yang mulanya tidak yakin akan bisa membawa pulang ASIP jadi bersemangat untuk mencoba membawa ASIP ketika pulang bagaimanpun hasilnya.

Persiapan pun dimulai. Beberapa barang yang dibawa antara lain:

1. Pompa ASI. Saya bawa 1 pompa portable 1 pompa manual, 1 silicone pump untuk tandem.

2. Coolerbox & coolerbag. Saya bawa coolerbox untuk membawa pulang ASIP ke Indonesia. Coolerbag untuk saya gunakan menyimpan ASIP ketika aktivitas luar selama di Thailand.

3. Kantong ASIP & Spidol. Saya gunakan kantong karena lebih fleksible dan ringan dibandingkan dengan botolkaca. Spidol tentunya untuk msnuliskan identitas pada kantong ASIP.

4. Icepack/Icegel. Saya bawa 7 buah icegel

5. Apron menyusui. Agar bisa leluasa memompa dimanapun. Saya sempat sekali memompa di pesawat, sekali di bandara Soetta dan sekali di bandara Thailand ketika akan pulang.

6. Sterilizing tablet. Digunakan untuk sterilisasi alat pompa. Memudahkan agar tidak perlu merebus atau mengukus.

7. Tissue, tissue basah, hand sanitizer. Tidak selalu kita bisa menemukan tempat cuci tangan terlebih dahulu sebelum memompa.

Yang nggak boleh sampai ketinggalan

Awal berangkat coolerbox berisi 5 icegel saya masukkan ke dalam koper, karena ada batasan membawa cairan di kabin pesawat. Saya hanya membawa coolerbag berisi 2 icegel dan pompa ASI. Saya sempat sekali memompa ASI di bandara Soetta. Sempat lupa bilang bahwa isi coolerbag adalah ASIP dan pompa ASI, jadi saat di XRay diberhentikan dan diminta membuka coolerbag untuk di cek.

Ketika akan pulang ke Indonesia, seluruh ASIP hasil memompa saya masukkan ke dalam coolerbox beserta seluruh icegel. Tidak lupa saya beri tulisan “BREASTMILK”agar andai saya lupa bilang tidak perlu dapat banyak pertanyaan seperti saat berangkat. Saya sempat sekali memompa di bandara Thailand sebelum berangkat kembali menuju Jakarta.

Selama di Thailand, karena ada agenda pindah kota dan ganti hotel, maka saya memilih untuk tidak membekukan ASIP saya. ASIP saya masukkan kulkas kamar, ice gel saya titipkan freezer hotel. Baru di malam terakhir setiba di Jakarta, saya titipkan semuanya (ASIP & icegel) pada resepsionis hotel untuk diletakkan dalam freezer. Dengan pertimbangan saya bepergian tidak sampai 1 minggu (4h3m). Serta perjalanan pulang Jakarta-Surabaya yang tidak memakan waktu lama, sehingga kemungkinan ASIP beku mencair lebih kecil.

Udah mirip penjual es. Harus PD nenteng coolerbox isi ASIP

Antri check in, puku biru tetep eksis ga boleh ketinggalan.

Oleh-Oleh untuk Una

Ruang menyusui Don Mueang International Airport Thailand. Sempat memompa sekali disini

Sampai dirumah dengan selamat

MengASIhi memang tidak mudah, butuh support system yang kuat, tekad bulat, mental baja. Me time boleh, tapi hak anak atas ASI harus tetap terpenuhi. Semangat ASI… 9 months to S3…
-almost midnight, looking at your sweet face, Una-

Trip to Semarang

Ketika pertama kali mendengar kata Semarang,yang terlintas di benakku adalah pengalaman pertamaku ke kota ini di tahun 2007.
Yaa… saat itu aku yang sedang menikmati liburan transisi dari SMA ke bangku kuliah, sengaja berkunjung ke tempat tinggal kakak sepupuku di Semarang…

Tapi kali ini kunjungan ke Semarang tentu berbeda, bersama orang yang berbeda pula…
Ya… sudah bersama Mas Swami. Dan beserta adek & ibuku serta beberapa teman Mas Swami…

Tanggal 10 Januari 2015, sebelum adzan subuh berkumandang kami sudah mluncur dari rumah.. sholat subuh di perjalanan (tetep sholatnya di masjid, bukan di jalan ya..). Akhirnya sampailah di stasiun ps.turi untuk berangkat di jam 6pagi dengan kereta maharani..

image

Hmm… dan kami menikmati peejalanan di kereta kurang lebih 4,5jam

image

Sengaja diedit biar romantis

Sampailah kami di St.Semarang Tawang, dijemput oleh kakak sepupu untuk bersiap ke undangan pernikahan salah seorang kerabat (karena tujuan utama memang ke nikahan.. hehe)

image

Ok… tujuan utama sudah selesai… maka berikutnya ya… jalan2… yippi…

Pertama… kita ke Lawang Sewu. Objek ini sebenarnya memiliki 496pintu… cuma karena saking banyaknya akhirnya dibilang Lawang Sewu (lawang=pintu, sewu=seribu). Dulunya digunakan untuk gedung ticketing kereta,sekarang sebenarnya jadi museum kereta juga. Cuma lebih dikenal karena mistis… hehe

image

Perjalanan diteruskan untuk menuju Masjid Agung jawa Tengah.. Di Menaranya kita bisa menikmati indahnya kota Semarang

image

Pemandangan malam

image

Pemandangan siang

Karena sudah lelah… malam tiba, kembalilah ke rumah kakak sepupu untuk istirahat..

Minggu, 11 Januari 2015 (sebelas januari bertemu… lalalalala)
Pagi hari jogging bersama di Universitas Diponegoro.. dilanjutkan melalui jalan gombel.
Jalan Gombel sebenarnya lebih bagus kalau malam… but its ok.. ttp bagus pemandangannya…

Pagi berlalu, tibalah siang untuk mengantar ibu & adek ke st.Semarang Poncol. Memang, ibu & adek sengaja pulang duluan agar sampai sidoarjo lebih awal..
Sementara aku dan mas swami… ya… kami masih jalan2…
Tapi kali ini bersama teman2 mas swami..

Pantai marina..
Awalnya kukira pantai dengan hamparan pasirnya yang membentang. Tapi ternyata tidak.
Pandai dengan tepian tembok pembatasnya.. ya.. aku lupa bahwa Semarang yang memang tampaknya lebih rendah atau mungkin hampir sama dengan tinggi permukaan air laut, pastinya tidak memiliki pantai dengan hamparan pasir..
Tapi tetaplah masih bisa menikmati sunset.. hoho

image

image

Dan perjalanan di Semarang berakhir dengan kebingungan mengembalikan mobil rental teman Mas Swami… tapi alhamdulillah terselesaikan…

Daan… Sayoonaaraa… waktunya kembali ke dunia nyata… kembali pulang ke rutinitas harian…

image

Sampai jumpa lagi Semarang

~Ditulis di suatu sore saat listrik padam~