Anak : Hak Prerogatif Sang Khaliq

Setiap orang yang menikah, disadari atau tidak pasti memiliki keinginan untuk memiliki keturunan. Siapapun itu, dimanapun berada. Entah kenapa dan darimana rumus bahwa “setelah menikah pasti segera punya keturunan, kalau tidak berarti ada masalah” ini muncul. Bahwa tiap orang yang menikah harus punya anak, bahwa sebelum punya anak berarti tidak bahagia.

Mindset yang ada di masyarakat selama ini masih mengedepankan hal tersebut. Maka tidak heran jika masih banyak komentar bernada miring jika terlihat pasangan yang belum dikaruniai keturunan.

Saya sempat merasakan “ditodong” pertanyaan “kok belum hamil?”, “udah isi belum?”, “kenapa ditunda?” (Padahal sama sekali nggak nunda), dan pertanyaan lain sejenis yang mungkin semua orang sudah hafal di luar kepala.

Dan sejujurnya, ditodong pertanyaan semacam itu rasanya tidak nyaman. Seakan hal tersebut murni karena andil dari saya dan suami, seakan mereka lupa bahwa semua yang terjadi bukankah telah ditulis di Lauhul Mahfudz? Bukankah semua hal terjadi atas kehendak Allah?

Baca : Takdir : Biarlah Menjadi Urusan Allah

Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.

QS Asy-Syura 49-50

Bahwa semua hal terjadi atas kehendak Allah, ya, apapun itu. Bahkan sekuat apapun kita berusaha, jika Allah tak berkehendak maka takkan terjadi.

Baca : Everything Happens for a Reason

Oleh karena itu, maka jangan heran jika ada yang bertanya pada saya “si A sudah isi belum?”, “si B kok belum hamil apa ditunda ya?”, dan saya menjawab dengan “tidak tahu”. Karena saya pernah merasa ditanya seperti itu rasanya tidak nyaman, jadi saya nggak pernah bertanya seperti itu pada pasangan baru. Toh jika pun sudah hamil pasti akan terlihat, atau tanpa diminta mereka akan bercerita.

Maka janganlah turut mencampuri apa yang telah menjadi hak prerogatif Allah. Karena Allah, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, lebi tahu apa yang terbaik bagi makhluknya.

-terinspirasi dari tulisan tentang tema yang sama di  http://www.dianonasis.com/2015/06/anak-itu-hak-allah.html?m=1

Iklan

ASIP untuk Una

Sebagai working mom, keinginan untuk terus bisa memberikan tetes-tetes surga bernama ASI tetap membara. Dan caranya adalah memompa ASI dan menyimpannya untuk stok ASIP Una ketika saya bekerja.

Dimulailah pelajaran perah-memerah ketika Una berusia 1minggu. Kenapa 1minggu? Karena saat itu saya baru bisa membersihkan freezer dari penduduknya yaitu ikan dan daging. Dan mulailah rutinitas memompa menjadi sebuah kegiatan sehari-hari.

Pompa asi adalah hal terpenting yang harus saya bawa bekerja, karena tanpa itu rasanya proses perah memerah akan memakan banyak waktu. Kenapa tidak marmet? Karena untuk saya LDR baru tercapai lama ketika tangan telah lelah. Ketika sebelah mulai berasa LDR, baru sebelahnya marmet.

Menyusui adalah hak baik bagi ibu ataupun bayi. Dan kita, semestinya berjuang untuk memenuhi hak bayi kita, yaitu ASI selama 2tahun. Ketika ASI tak dapat cukup memenuhi, maka disarankan mencari donor ASI terlebih dahulu, barulah menggunakan susu formula.

Alhamdulillah, Una telah lulus S1 ASI, dan segers akan S2 ASI. Semoga bisa berlanjut S3.. Aamiin

Thinking

image

Alone thinking

Tak pelak banyak hal di dunia ini yang harus kita pikirkan
Terkadang tak jarang pun apa yang kita lakukan kan selalu menjadi perhatian orang

Ya, hidup ini selalu tak pernah membiarkan kita berlaku sendiri
Pun tak pernah lepaskan kita terus membersamai hal yang sama
Semua berubah, namun tak semua menyadari bahwa satu-satunya hal yang tak berubah adalah perubahan itu sendiri

Seringkali kita dihadapkan pada pemikiran yang bertolak belakang, maka mengertilah…
Bahwa tiap individu diciptakan tidak ada yang sama persis
Tiap kita memiliki isi otak yang berbeda, pun dengan berjuta selnya
Pemahaman dan pendapat tak akan pernah seutuhnya sama
Karena fitrahnya kita memang tak sama

Mengertilah, karena dengan begitu tak perlu lagi ada prahara
Hidup itu penuh pilihan dan resiko, memilihlah apa yang kau kehendaki
Lalu legowo lah dengan pilihan itu
Apapun pilihan yang telah dipilih, pasti kan ada dukungan, tentangan, bahkan cibiran
Tak akan pernah bisa dielak, atau memilih dengan hanya dukungan

Ya.. karena memang kita diciptakan dengan isi kepala yang berbeda.. pun berjuta selnya…
Dan juga hati…

-Home alone, setelah hectic di pagi hari-

Trial (again)

Setelah melewati trimester pertama, rasanya indra penciumanku kembali normal. Yaa… karena kini tidak lagi anti dengan yang namanya bau masakan… actually kembali suka dengan trial2 masakan…

image

Brokoli crispy... yummy...

Yeay… tetiba tertarik mengolah sayuran ini… dan yippi jadilah…

Berawal dari keingin beberapa waktu lalu untuk makan siomay batagor, akhirnya iseng bikin untuk pertama kalinya deh

image

Siomay ikan (entah ikan apa namanya)

image

Siomay goreng tahu udang

Namanya juga trial, jadi bagaimana pun hasilnya yaa dimakan… Alhamdulillah habis dilahap seisi rumah..

Untungnya suami udah kubawakan bekal jadi tetap bisa menikmatinya

image

Bekal Mas Swami

Dan… tunggu lagi masakan selanjutnya yaa….
Alhamdulillah dedek pengertian banget, ndak rewel jadi bisa diajakin mengerjakan semua kerjaan rumah..

-almost dhuhur, rebahan setelah umek di dapur-