WWL : 2 Years Journey

Setiap anak yang lahir ke dunia, memiliki hak akan ASI. Maka kewajiban seorang ibu adalah memenuhi hak anak akan ASI semaksimal mungkin, kecuali ada indikasi medis tertentu. Pun seorang bayi, adalah manusia seutuhnya yang memiliki hak untuk mengambil keputusan. Keputusan terbesar pertama seorang bayi adalah ketika dia menentukan kapan saatnya berhenti menyusu. Tugas orang tua adalah membimbing serta mendampingi anak agar dapat dengan sama-sama ikhlas menyudahi proses mengASIhi.

Flashback di masa awal menyusui Una, saya sangat ingat bagaimana rasanya puting lecet berdarah sampai saat dipompa ASI jadi sperti susu stroberi. Uuhh… Rasa perihnya seakan luka yang ditaburi garam.

Baca : MengASIhi Una

Ditambah lagi dengan perasaan babyblues yang melanda. Karena di saat yang sama saya ingin berduaan dengan Una, tamu tak henti berdatangan, inginmemeluk dan cium Una. Sementara gerak saya masih terbatas dan dengan banyak sekali aturan sebagai orang jawa.

Baca : My Babyblues Syndrome

Banyak pengalaman menarik antara saya dan Una. Seperti ketika saya mendapatkan tawaran kantor untuk sebuah perjalanan wisata ke Thailand. Awalnya saya ragu untuk berangkat, namun saya merasa seorang ibu baru seperti saya butuh juga me time sekedar untuk menjaga kewarasan. Dengan segala pertimbangan dan tentunya hak Una akan ASI harus tetap terpenuhi, saya pun berangkat.

Baca : ASIP Itu Pun Turut Mengudara

Cerita WWL Una dimulai di usia Una 18 bulan. Saat itu saya memang telah mencoba membiasakan Una ketika terbangun tengah malam untuk duduk kemudian belajar minum air dari botol minum (bukan dot) semacam tup***ware. Tapi saat itu memang tanpa adanya sounding untuk WWL.

Una di usia 20 bulan sudah bisa dan terbiasa ketika terbangun malam duduk dan minum air kemudian kembali tidur lagi. Saya pun mencoba mulai sounding, “Una nanti setelah ulang tahun ke 2 sudah ndak mik mama ya, udah ndak mik gentong.. Mik air dari gelas atau botol, mik jus pake sedotan..”. Kurang lebih begitulah souding yang saya berikan.

Orang-orang di sekitar seketika ikut juga “bermaksud sounding”, cuma sepertinya malah Una merasa semacam digojloki (hmm.. Bahasa Indonesianya apa ya… Diejek atau diledekin mungkin). “Ayo.. Mik nya sudah…”, “ayo wes gek ndang dipedhot ae (ayo segera diakhiri saja)”, “olesi kunir ae ben gak arep (olesi kunir saja biar tidak mau)”. Entah kenapa memasuki usia 22bulan malah semakin posesif, semakin lengket dan tidak mau lepas. Hoho… Saat itu keadaan hampir sukses membuat saya berfikir mungkin memang belum saatnya. Tapi di sisi lain tidak dipungkiri lingkungan pada dasarnya masih menganut model penyapihan paksa seperti era saya bayi dulu. Saya sedikit banyak terbawa mood Una juga. Sempat sedikit ada gesekan dengan mbah nya Una tentang penyapihan. Setelah pembahasan maka sepakat bahwa saya bisa WWL dengan dimulai dari saat itu agar nanti tidak jauh terlewat dari ulang tahun ke 2 nya Una sudah lepas ASI.

Frekuensi menyusu pun saya kurangi bertahap yang awalnya minimal menyusu langsung 3x menjadi hanya 2x yaitu pagi bangun tidur dan saat sebelum tidur malam. Hingga di usia nya tepat 2 tahun, Una mulai belajar hanya menyusu saat malam sebelum tidur. Pagi hari ketika bangun saya langsung tawarkan minum air, cemilan, dan mainan. Tujuannya agar sesi menyusu di pagi hari terlewat.

Sangat sulit membuat Una lupa dan teralihkan dari menyusu di malam sebelum tidur. Bisa jadi malam ini bisa kardna sudah ngantuk berat dan lelah bermain, tapi malam keesokan harinya kembali teringat. Pada akhirnya saya harus membawa semua mainan kesukaan Una ke kamar agar Una bisa fokus bermain, atau saya ajak bernyanyi, ritual sebelum tidur saya buat lebih lama (sikat gigu, cuci muka, bahkan senam), hingga pada akhirnya lupa dengan menyusu. Saya coba tawarkan beberapa ritual pengganti menyusu seperti pijit, gosok-gosok punggung, dan pada akhirnya Una lebih memilih gendong atau peluk sambil duduk menghadap saya.

Saya merasa belum sepenuhnya sukses WWL, karena ada saat dimana Una menangis karena tidak bisa dialihkan dari menyusu lalu digendong dan tidur bersama mbah nya agar tidak lagi ingat menyusu. Tapi kini di usianya 25bulan 5hari, Una sudah bisa benar-benar lepas dari ASI. Dengan sendirinya dia akan minta peluk atau gendong sesaat sebelum tidur sebagai ganti ritual menyusu.

2 tahun yang sangat penuh kesan dan kenangan. 2 tahun yang tak akan pernah terhapus dari ingatan. Memori yang sangat indah untuk diingat, tapi tidak untuk dirindukan kembali, karena waktu selalu berjalan ke depan. Biarlah memori yang ada menjadi kenangan untuk saya dan Una. Karena waktu tak akan pernah berhenti, pun berjalan mundur kembali ke masa 2 tahun indah itu. Kini saatnya terus mengukir kembali memori untuk masa depan.

Una.. Terima kasih sudah memberikan pengalaman indah di 2 tahun pertama pengalaman menjadi ibu.. 

lewat tengah malam, sembari merasakan pelukan hangatmu, Una-

Iklan

ASIP Itu Pun Turut Mengudara

Ketika mendapatkan pemberitahuan bahwa saya akan ikut trip ke Thailand, yang terpikir pertama kali adalah bagaimana Una?? Una (saat itu masih 12bulan) belum mau coba susu selain ASI/ASIP, apakah nanti ASIP yang ada cukup untuk Una? Bagaimana saya selama perjalanan bisa tetap mempertahankan produksi ASI? Apakah ketika kembali Una masih mau langsung menyusu ke gentongnya?? (Kayaknya banyak yang muncul ya, bukan pertama aja nih..)

Setelah perundingan dengan suami mencapai kesepakatan, maka diputuskan saya akan ikut berangkat dengan pertimbangan sebagai berikut:

1. Saya harus kembali memompa malam dan dini hari agar stok ketika saya berangkat cukup hingga saya kembali pulang (karena saat itu Una sama sekali menolak susu selain ASIP)

2. Saya akan memompa selama pergi untuk mempertahankan produksi ASI dan mencegah mastitis (kalau sampai mastitis dan meriang, ngetrip tidak lagi riang.. Hehe)

3. Sounding Una (dan pastinya diri sendiri) bahwa hanya 4 hari saya dan Una tidak bersama, setelahnya akan kembali berpelukaaaann dan pastinya nggentong lagi. Ini untuk meminimalisasi rewel ketika ditinggal.

Awalnya saya berniat memompa hanya untuk rutin mengosongkan PD. Tapi alangkah sayangnya jika ASIP harus dibuang. Alhasil setelah bertanya kesana kemari dan browsing sana sini, saya yang mulanya tidak yakin akan bisa membawa pulang ASIP jadi bersemangat untuk mencoba membawa ASIP ketika pulang bagaimanpun hasilnya.

Persiapan pun dimulai. Beberapa barang yang dibawa antara lain:

1. Pompa ASI. Saya bawa 1 pompa portable 1 pompa manual, 1 silicone pump untuk tandem.

2. Coolerbox & coolerbag. Saya bawa coolerbox untuk membawa pulang ASIP ke Indonesia. Coolerbag untuk saya gunakan menyimpan ASIP ketika aktivitas luar selama di Thailand.

3. Kantong ASIP & Spidol. Saya gunakan kantong karena lebih fleksible dan ringan dibandingkan dengan botolkaca. Spidol tentunya untuk msnuliskan identitas pada kantong ASIP.

4. Icepack/Icegel. Saya bawa 7 buah icegel

5. Apron menyusui. Agar bisa leluasa memompa dimanapun. Saya sempat sekali memompa di pesawat, sekali di bandara Soetta dan sekali di bandara Thailand ketika akan pulang.

6. Sterilizing tablet. Digunakan untuk sterilisasi alat pompa. Memudahkan agar tidak perlu merebus atau mengukus.

7. Tissue, tissue basah, hand sanitizer. Tidak selalu kita bisa menemukan tempat cuci tangan terlebih dahulu sebelum memompa.

Yang nggak boleh sampai ketinggalan

Awal berangkat coolerbox berisi 5 icegel saya masukkan ke dalam koper, karena ada batasan membawa cairan di kabin pesawat. Saya hanya membawa coolerbag berisi 2 icegel dan pompa ASI. Saya sempat sekali memompa ASI di bandara Soetta. Sempat lupa bilang bahwa isi coolerbag adalah ASIP dan pompa ASI, jadi saat di XRay diberhentikan dan diminta membuka coolerbag untuk di cek.

Ketika akan pulang ke Indonesia, seluruh ASIP hasil memompa saya masukkan ke dalam coolerbox beserta seluruh icegel. Tidak lupa saya beri tulisan “BREASTMILK”agar andai saya lupa bilang tidak perlu dapat banyak pertanyaan seperti saat berangkat. Saya sempat sekali memompa di bandara Thailand sebelum berangkat kembali menuju Jakarta.

Selama di Thailand, karena ada agenda pindah kota dan ganti hotel, maka saya memilih untuk tidak membekukan ASIP saya. ASIP saya masukkan kulkas kamar, ice gel saya titipkan freezer hotel. Baru di malam terakhir setiba di Jakarta, saya titipkan semuanya (ASIP & icegel) pada resepsionis hotel untuk diletakkan dalam freezer. Dengan pertimbangan saya bepergian tidak sampai 1 minggu (4h3m). Serta perjalanan pulang Jakarta-Surabaya yang tidak memakan waktu lama, sehingga kemungkinan ASIP beku mencair lebih kecil.

Udah mirip penjual es. Harus PD nenteng coolerbox isi ASIP

Antri check in, puku biru tetep eksis ga boleh ketinggalan.

Oleh-Oleh untuk Una

Ruang menyusui Don Mueang International Airport Thailand. Sempat memompa sekali disini

Sampai dirumah dengan selamat

MengASIhi memang tidak mudah, butuh support system yang kuat, tekad bulat, mental baja. Me time boleh, tapi hak anak atas ASI harus tetap terpenuhi. Semangat ASI… 9 months to S3…
-almost midnight, looking at your sweet face, Una-