Trip to Semarang (2)

Weekend lalu adalah long weekend bagi saya dan mas swami, karena libur tanggal merah dobel di sabtu minggu. Beberapa waktu sebelumnya sebenarnya kami sama sekali tidak menyadari. Tapi begitu sadar, akhirnya mulailah berfikir “kemana kita..?”.

Setelah menimbang, memperhatikan, dan meneliti lebih lanjut (halaaaah) maka diputuskan kami akan mengajak Una naik kereta api. Alasan untuk naik kereta api sebenarnya karena Una belum pernah naik kereta api. Kemudian memilih kota. Awalnya kami ingin “mantai”, mungkin Banyuwangi, tapi apadaya tiket habis karena kami tidak jauh hari merencanakan dan membeli tiket. Pada akhirnya pilihan jatuh pada Semarang, dengan pertimbangan waktu yang tidak terlalu lama dan yang tidak kalah penting kami pilih jam keberangkatan kereta malam agar saat di kereta harapannya Una sudah mulai mengantuk dan akan tidur.

Baca edisi pertamanya disini : Trip to Semarang

Hasilnya… jeng..jeng..jeng…

Kami berangkat pada Jum’at 16 Maret 2018 dari Stasiun Pasar Turi dengan kereta ArgoBromoAnggrek pukul 20.00, perkiraan tiba di Stasiun Tawang Semarang 23.20. Selama perjalanan, Una sama sekali tidak tidur. Padahal di mobil dari rumah menuju stasiun sudah mulai merem. Mungkin Una terlalu exited dengan pengalaman pertamanya naik kereta. Yasudahlah pada akhirnya Una menyanyi, makan, nyemil di dalam kereta. Sementara mata kami yang dewasa sudah mulai ingin terkatup.

Una pose di stasiun

Sampailah kami di stasiun Semarang Tawang, dan karena lapar maka kami mencari sesuap nasi dulu. Akhirnya daripada jauh ya sudahlah ke gerai C*C yang ada di stasiun. Kami dijemput oleh kenalan Mas Swami yang ad di Semarang. Alhamdulillah Una baru masuk mobil sudah amblas. Mungkin dia memang dari awal antara menahan kantuk tapi excited naik kereta. Jadinya melek terus sepanjang perjalanan.

Vuew pagi yang cerah, dan Una pun cerah ceria

Kami sengaja bangun pagi untuk sarapan lebih awal kemudian tujuan utamanya adalah…. Berenang… karena Una paling tidak tahan melihat genangan air. Pastilah langsung cebuur…

Setelah sarapan, kami sempat beefoto sebelum berenang. Satu hal yang baru saya sadari adlah kenyataan bahwa Una sudah sangat mahir bergaya. Mungkin genetis.

Kami menginap di Balemong Resort. Awalnya tempat ini hanyalah sebuah restoran dengan live music di penghujung minggu. Namun pada akhirnya berkembang menjadi penginapan yang sangat nyaman dengan beberapa tipe. Tempat yang luas totalnya mencapai 5ha ini terdapat banyak fasilitas seperti kolam renang, playground, jogging track, persewaan sepeda, dan yang seru kami dari lobby menuju kamar diantar oleh mobil golf karena jarak yang memang cukup jauh. Ketika akan ke lobby, kami bisa telepon receptionist untuk minta dijemput juga. Suasana tenang untuk liburan keluarga.

Siang hari kami pergi ke Cimory on the Valley. Kami silaturrahim dengan salah seorang teman Mas Swami (banyak banget temennya). Tempat makan sekaligus outlet produk Cimory. Kami tidak hanya makan, tapi dapat juga menikmati jalan-jalan ke lembah dengan banyak spot foto serta… hewan ternak… iya, sapi, kelinci, ayam, kambing, bisa kita lihat disana. Sesuai untuk pengunjung dengan anak kecil, sekaligus media pembelajaran. Terlebih lagi tiket masuknya dapat ditukar produk yoghurt Cimory. Sayangnya saat kami disana gerimis mengguyus, sehingga kurang maksimal berswafoto.

Silaturrahim edisi 2 berlanjut di sore hari, lebih tepatnya mungkin malam. Kami bertandang ke rumah salah seorang kakak sepupu yang juga berada di Semarang. Tifak terlalu lama kami disana, karena memang suasana sudah hampir larut dan Una mengantuk.

Daan… kami salah… ketika kami sampai di hotel, Una kembali bangkit. Maalah masih makan mie juga.

Hari ke tiga yaitu Minggu, agenda kami memang hanyak akan beristirahat. Tidak pergi jauh, hanya mungkin akan mampir di beberapa tempat yang searah dengan jalan menuju stasiun.

Kami kembali naik kereta di stasiun Semarang Tawang dengan menaiki kereta ArgoBromo Anggrek. Dan pad akhirnya berakhirlah perjalanan kami di Semarang (untuk edisi kali ini).

Sampai jumpaa di lain kesempatan..

Karena esensi sebuah perjalanan adalah silaturrahim

Iklan

Motherhood

image

Saya suka sekali dengan quote di gambar itu. Gambar tersebut saya dapat dari foto bbm salah seorang teman dari suami saya.. makasih ya mbak Itha boleh copas gambarnya..

Seringkali terdengar adanya “perbandingan” antara satu ibu dengan lainnya. Working mom vs stay at home mom, SC vs spontan per vaginam, ASI vs sufor, pospak vs popok kain, dan banyak lain yang mungkin bisa di “versus”kan.

Rasanya ibu yang baik adalah yang mengasuh anaknya dengan baik & bahagia, menurut versinya sendiri dan tanpa membandingkan diri, pun anaknya, dengan orang lain.

Menjadi ibu yang bahagia itu penuh tantangan dan godaan memang. Melihat ibu lain posting foto ASIP sekulkas penuh sementara di sisi lain ada ibu yang kejar tayang atau bahkan sulit baginya untuk menyisihkan sedikit ASI untuk disimpan, seperti itu akan bikin stress secara tidak sengaja. Melihat ibu yang bisa mengasuh sendiri anak-anaknya, sementara sebagian kita dengan terpaksa menitipkan buah hati, itu akan membuat tekanan tersendiri. Mendengar beberapa anak dari ibu berkembang baik dengan BB yang menggiurkan, tapi tidak dengan beberapa yang lain.

Ya.. tiap kondisi ibu memang berbeda. Situasi dan lingkungan pun tidak selalu sama. Pun dengan tumbuh kembang anak-anak kita. Maka menjadi ibu yang bahagia dengan versinya sendiri itu penting, sepenting pula membiarkan anak kita tumbuh dan berkembang dengan dirinya sendiri. Tak perlu penghakiman orang lain, tanpa membandingkan dengan yang lain..

Berbahagialah, karena Anda pasti akan menjadi ibu terbaik bagi anak-anak Anda, bukan anak-anak orang lain. Pun anak-anak Anda adalah yang anak-anak terbaik bagi Anda, bukan ibu yang lain..

Every mom has her own batle..
Every children has their own playground..

malam 7Ramadhan, memandang lelapnya Una di hening malam-